Tanjung Priok memiliki banyak tempat wisata di Jakarta. Berbelanja di Pasar Ular di Desa Warteg; Makam dan Museum Mbah Priuk

Kawasan Tanjung Priok mirip dengan pelabuhan Tanjung Priok. Pelabuhan Sunda Kelapa dibangun oleh Belanda pada akhir abad ke-19 untuk menggantikannya. Didirikan pada tahun 1881, Tanjung Priok adalah pelabuhan tersibuk di Indonesia.

Lompatan dari pelabuhan Tanjung Priok mempengaruhi pergerakan penduduk setempat. Karena itu, masjid dan pura tidak jauh dari pelabuhan. Gedung-gedung baru bermunculan, termasuk desa Warteg.

Creative Tourism Jakarta pernah mengajak traveler asli ke kawasan Tanjung Priok dengan makanan gratis York. Tur ini dipandu oleh pendirinya Ira Latief.

Jika seorang musafir memiliki waktu 24 jam untuk menjelajahinya, Ini adalah daftar perjalanan.

1. Pasar ular

Sepi Pembeli, Pasar Ular Permai Akui Kalah Saingan dengan Pasar Ular Koja -  Wartakotalive.com

Pasar Ular saat ini terbagi menjadi Pasar Ular Plumpang dan Pasar Ular Permai. Bahkan Pasar Ular Plumpang merupakan pasar ular baru pada tahun 1970-an, dahulunya Pasar Ular atau Pasar Ular Permai. Pasar Ular yang lama merupakan hasil transisi dari pasar pelabuhan pada tahun 1970-an.

“Pada 1990-an, Pasar Ular baru didirikan. Dijual Dulu sangat terkenal. Pasar Ular sekarang ada di Pasar Ular yang baru.

“Disarankan untuk melakukan perjalanan pada hari Sabtu dan Minggu. Jalur peti kemas dari Pelabuhan Tanjung Priok sangat berbahaya,” kata Ira.

2. Gereja dan masjid simbol toleransi.

Tolak Relokasi Masjid Al-Muqarrabien dan GMIST Jemaat Mahanaim Halaman 2 -  Kompasiana.com

Gereja dan Masjid di Jalan Enggano ini dibangun pada tahun 1980 oleh Manajer Pelabuhan Tanjung Priok. Bahkan Gereja tersebut bernama Gereja Kristen Sangihe Talaud Mahanaim dan masjidnya adalah Al-Muqarrabien.

Kedua bangunan ini cocok dengan kombinasi warna. Masjid Al-Muqarrabien berlantai dua dicat putih dan merah. Dicat dengan warna hijau dan biru. Secara khusus, Itu dibangun pada tahun 1958. Pada tahun 1957 pintu dicat putih dan merah.

Ira mengatakan dua bangunan digunakan sebagai tempat ibadah bagi pelaut yang ditempatkan di Tang Jang Pro. Untuk pekerja galangan kapal

Dalam perkembangannya, minat terhadap keberadaan gereja dan masjid semakin tumbuh, di tengah perselisihan sektarian. Gereja dan masjid diyakini mewakili toleransi.

“Ini bukti ketahanan tinggi Tanjung Priok. Sebagai warga Priok, saya belum pernah bertemu dengannya, tetapi ketika dia berpapasan dengan seorang teman di Filipina, dia langsung antusias. Dia banyak berpikir. “Senang berada di sebelah masjid dan gereja.”

“Gereja dan masjid sekarang dipagari dengan langit-langit rendah,” jelasnya.
Sebuah masjid buka setiap hari di pintu masuk pelabuhan. saya menyembah Tuhan.

3. Desa Warteg

Buka 24 Jam, Kampung Warteg di Jakarta Utara Tawarkan Kuliner dengan Harga  Terjangkau - Tribunjakarta.com

Kawasan Desa Warteg terletak di jalan masuk Jalan Enim menuju Pelabuhan Tanjung Priok yang dulu bernama Pasar Tegal. Tikus berjejer di jalanan.

“Dulu puluhan tikus berjejer di kanan kiri jalan dan buka 24 jam sehari. Karena kedekatannya dengan pelabuhan, ribuan orang singgah di pelabuhan setiap hari. “Sosis lebih baik jika Anda makan di restoran mahal.”

Namun, setelah pelabuhan Tanjung Priok dipindahkan ke Jalan Enim, reputasi warteg memudar. Sekarang jerawat tidak seperti dulu.

“Salah satu kutil yang paling enak adalah Warteg Nabila. Apa bedanya dengan kutil lainnya?

Baca Juga : 5 Tempat Wisata di Jakarta yang Cocok Untuk Libur Lebaran

4. Stasiun Tanjung Priok

Melihat Stasiun Tanjung Priok Cagar Budaya yang Masih Layani Penumpang KRL

Stasiun Tanjung Priok juga dibangun di pelabuhan Tanjung Priok untuk mendukung operasi Belanda. Bahkan, ada jalur rahasia antara Pelabuhan Tanjung Priok dan stasiun.

“Pada zaman Belanda, ada bunker yang terhubung dengan pelabuhan Tanjung Priok untuk kargo. Ditemukan pada 2010 dan ditutup karena rusak,” kata Ira.

Ada juga lubang kucing. Bermalam di Stasiun Tanjung Priok. Ini untuk menampung penumpang yang tersisa di pesawat. Stasiun Kereta Api Tanjung Priok menggunakan kereta api jarak jauh.

“Saya dulu bekerja antar negara bagian dan divisi. Ketika dibuka kembali pada 2010, ia berhenti menyediakan layanan ke daerah tersebut. “Kalau mau ke Baduy, kami hanya melayani Jabodetabek, termasuk Rangkas.”

Stasiun Tanjung Priuk masih mempertahankan dekorasi Belandanya.

5. Pelabuhan Tanjung Priok

Pelabuhan Tanjung Priok Lanjutkan Digitalisasi - Ekonomi Bisnis.com

Pelabuhan Tanjung Priok sudah modern sejak zaman Belanda. Setelah pembangunan Terusan Suez, pelabuhan diperluas untuk meningkatkan perdagangan global.

Saat ini Pelabuhan Tanjung Priok merupakan pelabuhan tersibuk di Tanah Air. Pelabuhan tersebut menangani lebih dari 30 persen komoditas non-migas Indonesia, dan 50 persen dari semua arus kargo ke Indonesia.

“Saat ini masih banyak pohon terlarang, sehingga trotoar sangat dibutuhkan,” ujarnya. Ini juga merupakan tempat peristirahatan kapal pesiar. “Pelabuhan Tanjung Priuk semakin kaya karena izin lebih mudah sejak era Jokowi.” .

Di dalam Pelabuhan Tanjung Priuk terdapat gedung Pelindo yang mengelola operasional pelabuhan. Lokasinya sekitar 10 menit jalan kaki dari pintu masuk.

Ada juga museum bahari di Pelabuhan Tanjung Priok. Museum ini baru berusia dua tahun dan bertempat di sebuah bangunan yang sangat modern.

“Museum sesekali mencatat sejarah bahari Indonesia,” katanya. Museum ini dibangun oleh Pelindo dan sejauh ini tiket masuknya gratis,” kata Ira.

“Selain ruang demonstrasi kapten dengan layar tiga dimensi, Ada juga cerita awal mula bank babi,” kata Ira.

6. Makam Mbah Priuk

Melihat Sosok Mbah Priok yang Makamnya Dikeramatkan Warga Jakarta Utara  Halaman all - Kompas.com

Makam Mbah Priuk atau Habib Hasan al-Hadad merupakan salah satu makam primadona di DKI Jakarta. Pada tahun 2017, kawasan ini ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh pemerintah Kabupaten DKI. Dibuka oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

“Ada yang bilang nama Mbah Priuk ada hubungannya dengan Tanjung Priok. “Tapi ada juga yang tidak setuju.”

Senin (13/5) Jakarta Utara Ziarah ke Makam Mbah Priuk di Tang Jang Pro. Foto: Pradita Utama

Mbah Priuk lahir di Palembang, kata Ira. Dia datang ke Batavia pada abad ke-18 untuk menyebarkan agama. Dia pergi dengan banyak orang lain, tetapi dalam perjalanan dia turun dari kapal dan kelaparan.

“Para pengikutnya percaya Habib Hasan memiliki karomah di mantelnya yang bisa digunakan untuk memasak, tetapi Habib Hasan meninggal mendadak sebelum mencapai pelabuhan Batavia di Teluk Ancol,” kata Ira.

“Orang-orangnya menanam bunga dan membuat pot dan wajan. Saya menanam pot. Sejak itu dia berganti nama menjadi Tanjung Priok, ”kata Ira.

Makam Mbah Priuk awalnya terletak di sebelah Ira di Ancol, namun dipindahkan dari Belanda ke Tanjung Priok. Dia mencoba lagi dan lagi karena makam itu sulit untuk dipindahkan. Banyak petugas yang jatuh sakit saat hendak membongkar makam Mbah Priuk.

“Saat Satpol PP menghadapi mahasiswa, nama Mbak Priuk sempat menjadi kontroversi pada 2010 dan menjadi perjalanan religi dan bersejarah ke Jakarta,” kata Ira.

Sejarawan JJ Rizal memiliki pandangan berbeda. Berdasarkan penelitiannya, Mbah Priuk bukanlah salah satu da’i Islam paling berpengaruh di Betawi. Dalam silsilah orang-orang yang dimuliakan untuk membawa Betawi sejalan dengan Islam, Foto Mbah Priuk tidak pernah dipublikasikan.

Baca Juga : 7 Aplikasi Dewasa di Google Play Store Terbaru